A.
Biografi
-
Nama lengkap : Vanessa Mae Vanakorn
Nichloson
-
Nama panggilan : Vanessa Mae
-
Kebangsaan : British
-
Orang tua :
1. Ayah
: Varaprong Vanakorn kebangsaan Thailand
2. Ibu
: Pamela Tan kebangsaan China
-
Tempat,tanggal lahir : Singapure,27
oktober 1978
-
Tempat tinggal : Kensington,London
-
Hobbi : Ski air, membaca,kuliner dan ice
skatting
-
Warna favorite : Ungu tua
-
Makanan favorite : coklat
-
Minuman favorite : orange juice
-
Buku favorite : karya Gabriel Garcia
Marquez
-
Film favorite : The jungle book
-
Aktor favorite : Humphrey Bogart
-
Moment yang tidak terlupakan : Tampil di
festival rock dan ulang tahun ke 18.
B.
Siapakah Vanessa Mae
Vanessa-Mae adalah seorang pemain violin
yang sangat berbakat yang sudah melalui berbagai macam rangkaian tour panjang
dengan jadwal yang sangat padat. Vanessa bisa menggabungkan bakatnya dalam
bernyanyi dan bermain music dalam satu konser dengan luar biasa bagusnya selama
kurang lebih 3jam. Dalam tur dunia terakhir nya saja, dia tampil di lebih dari
250 kota di 35 negara, Tidak puas dengan tampil di beberapa konser paling
terkenal di dunia tempat ini, Vanessa-Mae selalu membawa musik ke tempat-tempat
baru dan orang baru.
Dia
adalah satu-satunya artis asing yang diundang untuk tampil pada saat penyatuan
kembali Hong Kong ke China pada tengah malam pada 30 Juni-1 Juli, membuat
terakhir artis non-Cina ini tampil di Hong Kong di bawah pemerintahan Inggris
serta yang pertama di bawah kekuasaan Cina.
Dia
kembali baru-baru ini untuk tampil di Madison Avenue, mengikuti tur konser yang
sukses lebih tempat konser konvensional di antaranya pertunjukan
Ground-melanggar di Perancis termasuk konser pertama kalinya dipentaskan pada
Trocadero di Paris, dengan Menara Eiffel sebagai latar belakang, dan penampilan
tamu di Konferensi G7 untuk 150.000 orang di mana dia akan menampilkan
pertunjukan, dengan banyak media pers yang menyorotnya. Dia baru-baru ini
menjadi artis internasional pertama yang mengunjungi Township Soweto di Afrika
Selatan dengan undangan, dan pertemuan bermain dengan anak-anak dari sebuah
sekolah musik lokal.
Keyakinannya
teguh dalam memecahkan hambatan dengan musik telah memenangkan audiens yang setia
dari segala usia dan ras. Pada tahun 1997 ia memberikan konser pertama kalinya
di danau beku terkenal dari St.Moritz, delta-meluncur turun dari 2400m untuk membuat
pintu masuk spektakuler. Pada bulan
April 1998 dia melakukan sebuah konser eksklusif di Istana Buckingham HM The
Queen dan 26 kepala negara dari Eropa dan Asia untuk menandai penutupan Assosiation
- Asia-Eropa KTT Pemimpin Dunia.
C.
Latar Belakang
Vanessa-Mae dilahirkan dari
keluarga Thai, ayahnya (Varaprong
Vanakorn, sekarang menjadi biarawan) dan ibunya bernama Pamela Tan. Setelah
orang tuanya bercerai, maka ibunya menikah lagi dengan Graham Nicholson
(seorang Inggris), kemudian keluarga ini pindah ke Inggris pada waktu Mae
berusia 4 tahun, tetapi mereka berpisah beberapa tahun kemudian. Ia dibesarkan
di London, dan mendapat pendidikan di Francis Holland School
London.
Vanessa-Mae,
dilahirkan pada 27 Oktober 1978 di Singapura
(kebetulan bersamaan dengan tanggal lahir pemain biola terkenal Niccolò Paganini, yang terpaut 196 tahun yaitu
27 Oktober 1782. Sekadar pengetahuan bagi Anda, Niccolo Paganini adalah seorang
komposer dan pemain biola yang terkenal pada era klasik. Virtuoso biola
kelahiran Italia ini tidak hanya kebetulan memiliki tanggal lahir yang sama,
keduanya juga adalah pemain biola yang sangat berbakat. Niccolo Paganini
terkenal dengan kendali pitch dalam memainkan biolanya.
Darimana
Vanessa memperoleh kemampuan cepat bermain biola tersebut? Tentu hal ini tidak
ada hubungannya dengan tanggal lahir yang sama dengan Paganini karena
pengenalan terhadap biola dimulai dari keluarganya sendiri. Sang ibu, Pamele
Mae dan ayah tirinya Graham Nicholson lah yang saling mempengaruhi. Bila ibunya
menuntut Vanessa belajar piano, maka ayah tirinya akan menantang Vanessa kecil
untuk berlatih biola agar bisa bermain dengan sang ayah. Oleh karena itu,
anugerah bertanggal lahir yang sama dengan Paganini hanya berbau kebetulan
semata.
Kejeniusan
Vanessa-Mae dalam bermain biola sudah terlihat sejak kecil. Sejak berusia 3
tahun perempuan bernama lengkap Vanessa-Mae Vanakorn Nicholson ini sudah mulai
bermain piano. Bukan hal yang aneh sebenarnya mengingat ibunya Pamela menguasai
alat musik tersebut. Ketika Pamela bercerai dari suaminya Vorapong Vanakorn dan
menikah dengan seorang pengacara berkebangsaan Inggris, Vanessa turut diboyong
ke negara Ratu Elizabeth tersebut.
Bila
Vanessa mengenal piano dari sang ibu, pengenalan dengan alat musik biola
berawal dari sang ayah tiri, Graham Nicholson. Pria Inggris ini mengajak
Vanessa untuk bermain biola agar bisa menemaninya bermain. Oleh karena keluarga
Nicholson berasal dari keluarga yang berkecukupan, perempuan yang menyukai
coklat ini mendapatkan pendidikan dari sekolah yang berkualitas. Ia bersekolah
di sekolah khusus wanita Francis Holland School, belajar privat kepada guru
piano Ruth Nye, dan mengikuti pelatihan biola kepada Prof. Lin-Yao-Ji di
Conversatoire of China.
Sejak
kecil, violinis yang pernah dekat dengan pembalap Jacques Villeneuve ini telah
dikontrol oleh sang ibu. Pamela yang bersikap ambisius mengatur semua keperluan
dan kegiatan anak perempuannya. “Selama bertahun-tahun saya dikendalikan oleh
Ibu,” ujar violinis yang sekarang sedang dekat dengan Lionel Catelan ini.
Selain melarang sang anak bepergian tanpa pengawal, sang ibu juga memilih
teman-teman dan mengatur keuangannya. Hal yang lebih parah lagi adalah Vanessa
bahkan tidak diperbolehkan mengiris roti karena takut anak perempuannya
tersebut terluka.
Pada
awalnya perempuan yang memelihara empat anjing jenis Tibetian terriers ini
mengerti akan keinginan ibunya dalam menentukan hal yang terbaik baginya. Akan
tetapi, terbaik buat sang ibu belum tentu terbaik pula buat Vanessa. Sikap
paranoid dan kekuasaan ibunya dalam mengontrol kehidupannya, lama-lama membuat
Vanessa frustasi. Ekspresi kepasrahan tersebut diungkapkan dalam lagu White
Bird yang menceritakan tentang burung yang terperangkap dalam sangkar emas.
Tentu tidak butuh seorang psikolog terkenal untuk mengatakan bahwa lagu
tersebut mencerminkan keadaan Vanessa yang sebenarnya. “Saya sangat suka lirik
ini karena mengandung kebenaran. Hidup saya seperti sebuah sangkar, sebelum saya
memutuskan bebas.”
Kekuatan
Pamela sebagai ibu dan manager (dikenal juga dengan istilah momager) sebenarnya
tidak menyangka rasa sayang yang berlebihan akan mengakibatkan reaksi seperti
itu. “Apabila misalnya Vanessa memulai karir pada saat usia 18 tahun, tentu
saya tidak akan mendampinginya selalu. Akan tetapi, karena anak saya memulai
karir di usia muda, maka saya sebagai ibu lah yang harus melindunginya dari
pengaruh buruk,” ujar sang ibu. Untunglah perbedaan pendapat antara ibu dan
anak ini tidak menyulut perseteruan yang berkepanjangan. Pamela menyadari bahwa
sudah saatnya membiarkan sang anak menentukan apa yang ia mau tanpa ada
intervensi dari sang ibu. Ketika kebebasan diberikan, Vanessa langsung
mengganti tahun-tahun tersebut dengan bebas berteman, jalan-jalan, dan sesekali
melakukan perjalanan berlibur. Perempuan ini bahkan menyewa sebuah flat di
daerah Kensington, London dan sesekali saja berkunjung ke rumah sang ibu.
D. Kehidupan
Meski
dianggap reinkarnasi Paganini, kelahiran Vanessa sama saja dengan proses kelahiran
anak lainnya. Tidak, tentu saja Vanessa tidak langsung memainkan biola ketika
ia lahir. Sama seperti orang lain, kemampuannya bermain biola tentu diawali
dengan proses pengenalan, pembelajaran, sehingga akhirnya ahli memainkan alat
musik berdawai tersebut. Satu hal yang membedakan adalah perempuan ini terlalu
cepat ‘menelan’ pengetahuan yang didapatkannya sehingga predikat jenius
disandang perempuan yang juga ahli berski ini. Kejeniusan perempuan yang
menjadi salah satu wanita tercantik versi People Magazine tahun 1996 ini diakui
pula oleh Profesor Felix Andrievsky, guru besar sekolah Royal College of Music.
“Ia seperti lahir dengan biola di tangan. Saya pun cemburu melihat betapa
mudahnya ia mempelajari komposisi musik klasik yang rumit,” ujar profesor tersebut.
Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Michael Gough-Matthews. Pria yang
pernah menjadi kepala sekolah saat Vanessa menuntut ilmu di Royal College of
Music.
Selain
itu, pemain biola ini juga dikenal sering memainkan teknik staccato dan pizzicato
(menggunakan jemari untuk memainkan biola) dalam permainannya. Melihat
kemiripan antara keduanya, banyak yang percaya bahwa Vanessa-Mae sesungguhnya
adalah titisan Niccolo Paganini tersebut. Bagi Anda percaya konsep reinkarnasi,
boleh saja Anda mempercayai anggapan tersebut. Bila tidak, bukti-bukti prestasi
yang ditorehkan Vanessa bisa meyakinkan Anda bahwa perempuan ini akan menjadi
virtuoso biola terkenal abad ke-21.
Meski awalnya mempelajari piano
dan biola, Vanessa akhirnya memutuskan untuk berkonsentrasi mempelajari biola.
Ironisnya, keputusan ini diambil setelah wanita ini memperoleh penghargaan
runner-up dari UK Young Pianist of The Year Competition. Untunglah, pilihan
yang diambil perempuan ini tidak salah karena Vanessa bergabung dengan London Philharmonic
Orchestra pada saat berusia 10 tahun. Penampilannya di Europe’s
Schleswig-Holstein Festival mengundang decakan kagum penonton karena saat itu
Vanessa yang masih berusia sepuluh tahun telah menjadi solis termuda yang
pernah tampil dengan orkestra dan memainkan komposisi karya Mozart. Di tahun
yang sama pula, Vanessa diundang untuk bergabung dalam Royal College of Music
dan setahun kemudian menjadi satu-satunya siswa termuda yang meraih gelar The
Profesional Diploma dari akademi tersebut.
Meski
selalu disebut-sebut sebagai anak jenius dalam dunia musik klasik, Vanessa
sendiri menganggap keberhasilannya sebagai buah dari kerja keras. “Saat masih
muda saya pikir ada sebuah pil yang bisa membuat kita bermain biola dengan
baik. Saya sampai memohon kepada Ibu agar dibelikan pil tersebut. Ternyata pil
semacam itu tidak ada, yang bisa membuat kita bermain lebih baik adalah kerja
keras,” ujar violinis yang pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Most
Beautiful People versi People Magazine ini.
Loyalitas
Vanessa terhadap alat musik biola sendiri adalah karena perempuan ini telah
jatuh cinta sejak kecil terhadap alat musik tersebut. Bahkan, bila anak
perempuan bermain boneka, maka boneka Vanessa adalah biola. Ketika ia berusia 8
tahun, perempuan ini telah memutuskan untuk menjadikan biola sebagai profesi.
“Orangtua saya mengatakan bahwa ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi
bila menjadikan ini sebagai karir, dan itu termasuk kerja keras,” ujar
perempuan penyuka film The Jungle Book ini. Oleh sebab itu, proses yang
dijalani Vanessa selanjutnya adalah kerja keras dan kedisiplinan. Setiap hari
perempuan ini menjalani latihan tidak kurang dari delapan jam sehari. “Saya
terbiasa bekerja karena ketika hasil kerja tersebut memuaskan, saat itulah saya
merasa senang dan gembira karena telah berhasil melaksanakan misi,” ujar
Vanessa.
Mengapa
Vanessa-Mae memilih biola? Selain karena
telah mempelajarinya sejak kecil, menurut Vanessa, biola adalah alat musik yang
paling mirip dengan vokal manusia. “Suara yang dihasilkan biola sangat
bervariasi dan ada emosi di dalamnya. Bisa membuat kita ingin menyanyi, menari,
dan menangis. Bentuknya juga mirip dengan bentuk tubuh manusia. Itu yang
membuat biola menjadi menarik karena suara dan fisiknya mirip sekali dengan manusia.”
Sebagai
pemain biola yang disebut-sebut jenius, Vanessa ternyata belum berpuas hati.
Vanessa lalu mengeluarkan album musik klasiknya, Violin (1990), Kid’s Classics
(1990), serta Tchaikovsky and Beethoven Concertos (1992). Ibunya yang juga
bertindak sebagai personal manager mengurus keperluan promosi Vanessa. Tidak
butuh waktu lama, Pamela bertemu dengan seorang promotor di dunia musik klasik
bernama Mel Bush. Tahun 1994, pemain biola berbakat tersebut dikontrak oleh
perusahaan rekaman EMI dan mengeluarkan album The Violin Player. Album yang
kental dengan warna tekno, perpaduan musik tradisional dan modern, serta
penggunaan biola listrik membuat album ini terdengar lebih pop dibandingkan
dengan klasik.
Ketika
video klip single Toccata and Fugue disajikan dengan gambar Vanessa mengenakan
baju basah dan berlokasi di pantai ternyata mengejutkan banyak orang. Hentakan
permainannya yang penuh semangat dianggap para senior musik klasik sebagai
langkah ‘memperkosa’ musik klasik. Kritikus menganggap adalah sangat
disayangkan membuang bakat besar si violinis jenius ini demi angka penjualan
dengan mengumbar promosi yang vulgar. Pihak yang lebih ekstrem bahkan
berpendapat bahwa suksesnya album debut Vanessa tersebut hanya karena
penampilan semata. Vanessa sendiri punya cara cerdik dalam menyikapi kritik
tersebut. “Bila semua orang bisa meraih sukses di musik hanya dengan
penampilannya, maka semua supermodel akan bisa membuat album yang menduduki
puncak tangga lagu,” ujar violinis yang sering disebut dengan ‘Si Jimi Hendrix
dengan biola ini. Hmm, nice argument!
Biola yang pernah/masih dipakai
Vanessa adalah :
1. Biola
listrik ZETA Jazz Fusion 4 string model JV-44 (white) made in the USA.
Biola ini dilengkap dengan
individual string digital output yang memungkinkan penggunaan setiap string
secara terpisah. Ted Brewer "Crossbow" electric violin. Biola ini
digunakan pada saat produksi album Subject to Change (2001) dan setelah itu
menjadi salah satu biola utama dan terlihat dalam setiap penampilannya. Biola
ini adalah buatan tangan dan Vanessa memesannya secara khusus.
2. Guadagnini
violin, made in 1761.
Biola Guadagnini dibelikan oleh
orang tuanya pada lelang seharga £150,000 (Rp. 10 juta). Bila bermain akustik,
Vanessa selalu mengenakan biola jenis ini. Orangtuanya membeli biola yang
dibuat di Itali pada tahun 1761 tersebut. Meski sempat dicuri dari rumahnya
pada tahun 1995, biola ini ditemukan polisi 2 bulan kemudian. Kemudian, biola
ini pernah rusak dalam sebuah pertunjukan. Setelah diperbaiki secara tidak
terduga biola ini bisa diperbaiki dan kembali seperti sedia kala.
3. Hill
violin, made in 1860.
Inilah biola yang pertama kali
digunakan oleh Vanessa-Mae.
Meski
dibesarkan di Inggris sejak berusia 3 tahun, Vanessa-Mae masih tetap memegang
teguh adat ketimurannya. Pemain biola berambut panjang ini bahkan khusus
merilis album China Girl yang merefleksikan kecintaannya terhadap budaya Cina.
Album ini lahir dari rasa bersalah Vanessa atas ketidaktahuannya tentang budaya
Cina. “Saat berumur 15 tahun, kakek saya meninggal dunia sehingga satu-satunya
link yang menghubungkan saya dengan Cina telah tiada. Jadi, jalan untuk
menuangkannya adalah dengan musik, ujar violinis berbakat ini tentang pembuatan
album tersebut. Tidak heran Vanessa memiliki keterikatan yang kuat dengan negara
asal ibunya ini. Salah satu perekatnya adalah karena violinis ini pernah
berguru kepada Profesor Lin-Yao-Ji di Conversatoire of China di Beijing. Di
negara tersebut, Vanessa mendalami biola selama beberapa bulan dan kemudian
kembali ke Inggris.
Meski
hanya sebentar menikmati udara negara oriental tersebut, adat ketimuran yang
selalu dipegang Vanessa membuat penyanyi ini diajak terlibat dalam perhelatan
penyerahan Hongkong ke China. Tentu saja hal ini menjadi istimewa karena saat
itu Vanessa menjadi satu-satunya orang non-warganegara Cina yang diundang
tampil pada acara tersebut. Hubungan personal terhadap tanah oriental tersebut
tercermin juga dalam kegiatannya sehari-hari. Satu hal yang mencengangkan
adalah kepercayaannya terhadap ritual keberuntungan. Pemain biola ini selalu
mencipratkan air di atas panggung sebelum ia tampil serta di beberapa tempat
sekelilingnya. Bila tidak ada yang tahu tentang ritual ini, tentu orang akan
langsung membersihkan lantai dari cipratan air, bukan? Semoga saja keberuntungan
Vanessa-Mae tidak menghilang seiring dengan pembersihan itu.
Pengakuan
Vanessa dalam menganut beberapa adat ketimuran ternyata bertolak belakang
dengan kehidupan a la Inggris yang dijalaninya. Sebagai wanita cantik dan
menarik, ternyata violinis ini telah mengalami first kiss saat ia berusia… 3
tahun! “Saya masih tiga tahun waktu itu dan sekelas dengan Mark di pre-school.
Dia memanggilku dengan sebutan little queenie. Saya yakin first kiss saya
bersamanya. Definitely!” Wow, pasti berat mempertahankan adat ketimuran dalam
lingkungan barat.
Kerja keras sejak kecil
membuktikan Vanessa sangat berhasil di dunia musik klasik ini. Sukses ramuan
konsep musik klasik yang enak dinikmati di era musik kontemporer ini membuat
Vanessa dikenal sebagai perempuan pekerja dan berkemauan keras. Bila dahulu
orang memandang sebelah mata terhadap musik minor tersebut, Vanessa sebagai
pelopor membuktikan bahwa dengan musik klasik namanya harus di seluruh penjuru
dunia. Tidak hanya itu saja, sukses di dunia musik klasik tidak menghentikan
hasrat belajar perempuan berkebangsaan Inggris-Thailand ini. Rilis album
terbarunya Choreography dibawah perusahaan rekaman Sony Music membuat Vanessa
akan memiliki kesibukan terbaru dengan melakukan tur promosi ke seluruh penjuru
dunia, termasuk negara Asia tentunya.
Vanessa
bereksperimen dengan menyelipkan vokal dalam beberapa komposisi musik yang
dimainkan perempuan berambut panjang ini. Tidak tanggung-tanggung, Vanessa
belajar vokal kepada Carrie Grant yang juga melatih vokal Will Young, Victoria
Beckham, Charlotte Curch, dan Mel C. Selain itu, Vanessa juga sering diundang
dalam peragaan busana perancang terkenal. Bahkan, dalam sebuah fashion show
karya Jean-Paul Gaultier, perempuan ini tampil sebagai model di catwalk.
Prestasinya sebagai atlet ski nasional Thailand membuktikan bahwa kiprah
Vanessa masih akan kita nikmati Bila sudah memiliki keinginan serius, perempuan
berbintang Scorpio ini pasti akan berusaha mencapainya. “Semoga Tuhan
menjauhkan saya dari rasa puas, jika tidak saya tidak akan berkembang,” ujar
perempuan penyuka jus jeruk ini. Jadi, bila perjalanan karir Vanessa adalah
sebuah film, kita bukannya melihat tulisan the end saat akhir, melainkan.
Pengalaman Memalukan Vanessa
“Dalam
suatu pertunjukan di Skandinavia, saya lupa kapan tepatnya… yang pasti saat itu
saya tidak mengenakan sepatu berhak tinggi, tetapi sepatu Doc Martins berhak
rendah. Saya memutar dengan bertumpu pada satu kaki saat memainkan musik yang
kencang. Tapi, oops… saya jatuh. Daripada malu, akhirnya saya melakukan
ekspresi sakit seperti yang dilakukan badut saat adegan jatuh. Jadi penonton
menyangka itu adalah lelucon dan bagian dari pertunjukan sehingga mereka
bertepuk tangan. Sepertinya saya bisa beralih profesi menjadi aktris melihat
kemampuan akting saya saat itu,” Vanessa-Mae mengaku sambil menertawakan
dirinya sendiri.
Sebagai
artis, pebiola Vanessa-Mae Vanakorn-Nicholson dikenal multitalenta. Bakat
lukis, tari, ski (sebagai atlet ski nasional Thailand), dan modelling juga
dikembangkannya. Vanessa-Mae (VM) reguler melenggak di catwalk berbagai show
rumah mode dunia. Yang terakhir, ia membawakan gaun pengantin Jean-Paul
Gaultier bulan September kemarin.
Vanessa-Mae mulai belajar piano
pada usia 3 tahun dan belajar biola pada usia 5 tahun (umumnya para musisi
klasik dunia belajar pada usia 4-6 tahun).
Pada usia muda telah sering
muncul di TV London, dan pada usia 13 tahun telah membuat rekaman Koncerto
Biola ciptaan Tchaikowski dan Beethoven
bersama Orkes Philharmoni (suatu prestasi luar biasa seperti umumnya pemain
biola dunia yang muncul pada usia 11-13 tahun dengan memainkan repetoir standar
yaitu Conerto Biola ciptaan Tchaikowski atau Beethoven dengan iringan orkes
Philharmoni).
Vanessa-Mae muncul secara
internasional pada Schleswig-Holstein
Musik Festival di Jerman tahun 1988 (pada usia 10 tahun), dan sejak
tahun 1988 muncul dengan Orkes Philharmoni di London.
Vanessa-Mae sejak usia remaja ia
meninggalkan musik klasik ke musik pop-klasik dengan gaya yang menakjubkan. Ia
bermain dalam album Janet Jackson yang berjudul The Velvet Rope di
mana bermain biola solo pada lagu "Velvet Rope." Pada tahun 1995
(usia 17 tahun) ia mengeluarkan album pertama musik pop dengan judul The Violin Player.
Pada April 2006 (usia 28),
Vanessa-Mae termasuk seniman muda yang kaya menurut daftar Sunday Times Rich List
tahun 2006, sekitar £32 juta (Rp. 640 milyar) dari hasil main konser dan
penjualan rekaman 10 juta kopi di dunia, sebagai pemain biola wanita termuda.
E. Keunikan
Vanessa Mae
Keunikan Vanessa dalam musiknya yang
paling utama adalah kemampuannya melepaskan diri dari atribut-atribut yang
melekat selama ini. Di tangan Vanessa, musik klasik tidaklah identik dengan
ekspresi serius dan busana resmi. Walau memainkan lagu karya Bach dalam sebuah
konser, ia tidak melepaskan sepatu Doc Martens - sebuah ciri khas ABG (Anak
Baru Gede) - di kakinya. Sepatu yang mirip sepatu tentara itu, ditambah busana
ala disko di badannya, sungguh membuat para ABG yang selama ini jauh dari musik
klasik memadati konser-konser Vanessa.
"Saya memilih sendiri
busana-busana untuk pertunjukan. Saya suka gaun-gaun ketat karya Gaultier atau
Versace. Walau begitu, Doc Martens tidak pernah lepas dari kaki saya,"
kata Venessa pada sebuah wawancara dengan koran Singapura. Selain itu, Vanessa
mampu pula lepas dari belenggu uang. Sungguh, seluruh keuntungan dari dua
albumnya yang pertama disumbangkannya pada lembaga yang menangani kekerasan
pada anak, The National Society of Prevention of Cruelty to Children.
"Banyak anak tidak seberuntung saya. Saya tumbuh dalam keluarga yang cinta
anak-anak.
Pada usia 11 tahun saat kedua album
itu beredar, sungguh saya belum perlu uang," katanya. Bagaimana dengan
laba album-album berikutnya? "Itu lain. Saya ingin menikmatinya secara
wajar," katanya tertawa. Kini dengan tiga biolanya, Vanessa memang
merajalela di dunia musik. Biola pertamanya buatan empu biola Italia,
Guadagnini, tahun 1761 dan kini bernilai nominal sekitar Rp 1,5 milyar. Biola
kesayangannya ini dinamai Vanessa dengan nama "Gizmo". Biola
akustiknya yang lain adalah buatan Hill, dari AS, berharga sekitar Rp 100 juta.
Sedangkan yang banyak dipakainya di konser, biola elektrik berwarna putih,
adalah biola dengan merek Zeta, buatan AS.
Menikmati musik yang dimainkan
Vanessa, kita tidak perlu melakukan "persiapan khusus" seperti akan
menikmati konser. Anda tinggal mendengarkan sekaligus menikmati, karena oleh
Vanessa segala musik dikeluarkannya dengan memikat tanpa terikat selera
pendengar. Tidak heran jika banyak penggemar musik klasik yang mencela
interpretasi Vanessa. Namun terhadap omongan-omongan sinis itu, Vanessa
tidaklah berkecil hati. "Banyak yang merasa bahwa mereka (penggemar musik klasik)
tahu tentang apa yang mereka nikmati. Namun sebenarnya, mereka hanya menikmati
yang mereka tahu," katanya. Secara tidak langsung Vanessa mengatakan bahwa
menikmati musik klasik mempunyai banyak sisi. Penjelasan Vanessa mungkin benar.
Cobalah dengarkan rekaman-rekaman Vanessa.
Dari musik-musik Bach yang rumit,
sampai lagu Can, Can yang sering kita dengar sebagai latar belakang
adegan kejar-kejaran dalam film kartun Walt Disney, muncul dengan indah dan
seakan adalah lagu baru. Di panggung pun kita melihat gadis cantik yang tidak
segan bergoyang-goyang dan lari ke sana kemari saat memainkan Bach, atau juga
ngobrol akrab dengan penonton dalam aksen Inggris yang kental di sela-sela lagu
I Will Always Love You-nya Dolly Parton dan Red Hot yang memang
"hot". Walau begitu, Vanessa masih mempunyai sisi supranatural pula.
Dalam setiap konsernya, ia mewajibkan diri untuk menginjak tumpahan air antara
kamar ganti dan panggung. "Itu menambah keberuntungan saya," katanya.
F. Vanessa Mae & Music
Vanessa-Mae,
seorang pemain biola muda, sekarang dua puluh empat, mengambil dunia dengan
badai ketika ia hanya enam belas dengan rilis album 'pop' nya pertama: * The
Violin Player *. Disebut-sebut sebagai "Prodigy Anak" banyak dalam
komunitas Klasik bersemangat dengan bintang ini menarik baru yang sudah dirilis
3 Klasik CD ketika dia berumur 12 & 13, telah melakukan tur dengan orkestra
dan berpartisipasi dalam penampilan banyak TV dengan penuh percaya diri
profesional. Saat itu awal tahun 1995 ketika Vanessa sangat datang ke panggung
musik dengan sangat sukses nya Pop CD, "Lalu Violin Player". Para
elitis klasik yang terkejut yang ajaib mereka telah merilis sebuah
"Pop" CD dikemas sebagai Klasik. Tetapi dunia segera jatuh Cinta
dengan Vanessa dan merek nya Musik, campuran Klasik, Pop dan Jazz. Vanessa
penonton terpesona dengan komposisi dan kepribadian karismatik. Vanessa juga
berpakaian untuk membunuh menyebabkan kegemparan tambahan dari beberapa
elitists klasik kolot, Tapi itu adalah penguasaan nya biola, yang meninggalkan pendengar
dengan kagum.
Selain
dihormati dengan sejumlah penghargaan musik, tidak sedikit yang didambakan
Nordoff Robbins Silver Clef Award Internasional, bergabung dengan daftar
terkemuka dari pemenang sebelumnya, U2, INXS, Plant dan Page, Bryan Adams, dan
AC / DC, dia juga telah mandi dengan tak terduga non-musik penghargaan. Dia
adalah orang termuda yang pernah diundang untuk menangani tahun Oxford Union
172, dan People Magazine di USA memilih salah satu nya dari 50 orang yang
paling indah di dunia.
Pada
akhirnya, itu adalah menjual rekaman multi-juta-nya yang pertama kali dibuat
namanya rumah tangga di seluruh dunia. Orang termuda di dunia untuk merekam dua
karya concerto Beethoven dan Tchaikovsky, ia bergabung dengan EMI pada tahun
1994 dan dengan dua rilis untuk label, menjadi yang terbaik-menjual artis baru
di seluruh dunia.
Dengan sukses fenomenal Album Klasik
1 ia menjadi klasik jual artis-tercepat yang pernah, dan awrded Klasik Jual
Artist 'tahun 1997 World Music' Penghargaan Terbaik untuk-. The Classical Album 2 - China Girl, continued this trend,
entering the charts at No.1 immediately upon its release. Album Klasik 2
- China Girl, lanjut tren ini, memasuki lagu di No.1 segera setelah rilis.
Debut
album pop Pemain Violin yang membuat terobosan baru dengan kemudian baru konsep
akustik fusi biola-musik techno, adalah instrumental pop album debut paling
sukses yang pernah, charting di lebih dari 25 negara. Sejak itu dia telah pergi untuk menjual lebih
dari empat album jutaan dunia luas, terus carrer unik dual-nya. This tour is created around Storm, her recently released
second pop album. Wisata ini dibuat sekitar Storm, merilis album pop
kedua baru-baru ini dia.
Mae masa depan rekaman-rencana
Vanessa termasuk versi lama ditunggu-nya Season "Vivaldi" Empat
ditambah dengan Tartini's "The Devil's Trill" serta re-release selama
bertahun-tahun mendatang dua dari pertama tiga album klasik menakjubkan semua
dicatat oleh usia 13.
G. Album terbaru Vanessa Mae
Dengan
meramu konsep musik klasik yang sangat enak dinikmati di era musik kontemporer,
dua buah album yang telah dirilis sebelumnya, "Storm" dan
"Violin" "Player", ludes terjual hingga 8 juta kopi dan
mengantungi lebih dari 40 platinum. Dan kini, Vanessa kembali merilis album
ketiganya dibawah label Sony Classical. Sebuah album bertajuk
"Choreography".
"Choreography"
merupakan telah seorang Vanessa Mae terhadap musik klasik dengan tetap
mempertahankan cita rasa modern untuk dinikmati oleh para penikmat musik di
dunia,” seru Rob Dickins yang bertindak sebagai konsultan di album ini. Album
"Choreography" adalah karya yang mengagumkan. Terinspirasi oleh
alunan dan detak budaya musik dance, pengembaraan tango khas Argentina hingga
tribal dance dari Afrika, berujung pada kompleks dan mistisnya musik India
dengan tarian perutnya.
Pemenang
Oscar Vangelis (‘Chariots of Fire’, ‘1492’), komposer yang juga produser asal
Irlandia Bill Whelan(‘Riverdance’) dan komposer yang terkenal dengan komposisi
‘The Queen Symphony’ Tolga Kasief, serta seorang komposer muda berbakat asal
Eropa Walter Taieb adalah beberapa nama yang tercatat ikut serta mengerjakan
album ini. Tak ketinggalan juga komposer film dan produser paling sukses dari
India, AR Rahman(‘Bombay Dreams’). Komposer-komposer besar tersebut didukung
oleh Royal Philharmonic Orchestra bersama Vanessa mengerjakan bebunyian yang
fantastis dari bermacam style musik tradisional dari segara penjuru belahan
bumi demi album "Choreography" ini.
Simak
saja komposisi yang mengagumkan dari “Sabre Dance”. Diaransemen oleh Tolga
Kashif, seorang komposer yang pernah mengerjakan The Queen Symphony – material
lagu yang pernah dirilis di EMI ditahun 2002. “Aku ingin Sabre Dance menjadi
gubahan bernilai seni tinggi. Diawal lagu ini, aku sengaja membuatnya sedikit
misterius dan mengejutkan. Sehingga ketika kamu mendengarkannya pertama kali,
kamu tak akan mengira jika ini adalah Sabre Dance!” papar Vanessa mengenai
single pertama dari album ini dengan bersemangat.
Lahir
di Singapura dan menuntaskan pendidikan di London’s Royal Collage of Music,
dimana Vanessa Mae memulai karirnya sebagai ‘traditional "Violin"
virtuoso’. Vanessa Mae mengguncang chart-chart di belahan dunia dengan keunikan
musik klasik yang dibawanya di tahun 1995. Kala itu ia baru saja beranjak
remaja. Bakat musiknya berkembang sangat mengagumkan diusianya yang muda.
Vanessa mulai tampil memainkan biola saat berusia 5 tahun dan lima tahun
kemudian membuat para penonton di “Europe’s Schleswig-Holstein Festival”
tercengang melihat penampilannya yang mengagumkan. Di tahun 1992, ia menjadi
solois pertama dan termuda untuk tampil dengan orkestra yang memainkan
komposisi karya Mozart dalam sebuah tour di Timur Tengah.
Vanessa
Mae adalah figur unik dalam dunia musik. Dengan bermacam pengalamannya termasuk
kehormatan untuk menjadi artis internasional pertama yang tampil di “The South
African Township Of Soweto”, tampil dalam rangka memperingati Peringatan 250
tahun wafatnya JS Bach di London’s St James’s Palace dan tampil pada upacara
pembukaan Winter Olympics 2002 di Salt Lake City.
Salah
satu dari wanita yang karirnya cemerlang didunia musik saat ini, Vanessa Mae
dinobatkan sebagai salah satu dari “50 Most Beautiful People” di dunia oleh
People Magazine dan satu dari “World’s Most Beautiful Women” oleh FHM. Dia juga
menjadi sensasi saat “Fashion Week” di Paris ketika ia tampil menjadi model
untuk gaun pengantin karya Jean-Paul Gaultier. Dipentas yang sama tersebut, ia
juga tampil sebagai “impromptu” dengan kepiawaiannya memainkan biola.
Vanessa Mae direncanakan akan
tampil membawakan lagu-lagu dalam album "Choreography" ini dalam
sebuah perhelatan konser akbar. Bertempat di London’s Royal Festival Hall pada
tanggal 21 Oktober nanti. Konser ini akan menjadi sebuah sejarah bagi karir seorang
"Violin" phenomenon, Vanessa Mae.
- Just Share - :) by : mayzchan